Selasa, 17 Mei 2011

Hidup Kita

Dari ada,semua akan
tiada..
Dan dari tiada,akan
menjelma menjadi ada..
Seperti dedaunan, satu
persatu gugur,namun
akan berganti dan terus
berubah..hingga akhirnya
mati dan kembali ke tanah
lagi..
Hidup tak usah di tangisi,
Tak usah mencerca karya
sang pencipta..
Biarlah begini alur yang Dia
buat..
Biarlah tempat mana yang
ia sediakan buat kita..
Tak sepatutnya kita
mencela...
Kita harus
mensyukurinya..
Masih ada yang lebih
merana..
Masih ada yg lbh bahagia..

Semedi

sendiri berperang dengan
sepi,tak mampu menahan
gejolak hati...
pasrah dan sabar itu yg
terbaik.
menanti, akan
mempercepat mati...
menunggu,akan semakin
kelabu..
terus apa yg mesti di
buru?
akankah waktu terus
menggilasku..
terkadang ingin
menghindari ini, tapi jiwa
ini enggan berlari.
biarlah mentari itu
terlelap,
memalingkan pandangan
nya padaku.
aku tetap di sini.
bersemedi.

Rindu

Menggigil di sela hujan
Tiada hangat senyuman
Hanya ada kenangan
Yang masih tersimpan
Kala angin memeluk raga
Menari-nari dihiasi hujan
Ada setitik rindu,
Yang mengembang
sesakkan dada
Kegalauan ingin berjumpa
Bertemu dan bertatap
muka
Melepas rindu yang ada
Walau hanya sehela nafas

Senja Pantura

Gemercik lautan
menggema..
Suara senyap menyapa
jalanan...
Suryapun nampak
kembali, pulang brselimut
samudra...

Parau

Di keruhnya malam tanpa
jemari rembulan,ku
tuangkan suara jiwa yang
lama terpenjara.
Kegelisahan rasa yang tak
kunjung reda,perihnya
batin yang terus mendera
dan tangisan hati yang
lama mengendap.

Ma'af Buat Sang Ayu

Sejuta kata ma'af ku urai perlahan,ku coba terjemahkan cara agar dirimu kembali tersenyum.. Lusinan kata tetap tak mampu membuka hatimu yg pekat lembab berselimut kabut,apakah tiada ma'af bagiku yang kemarin menyayat hatimu?,apakah gelapnya malam tak berganti siang?. Berilah jiwaku setetes embun agar dahaga dan lara jiwaku sejenak reda..

Sepanjang waktu yang menggulungku hingga dedaunan silih berganti tumbuh dan berguguran,senyummu masih saja melekat menyentuhku dan menghujamkan belati kepedihan. Aku tak kuasa menahan perih yang terus menghujam,aku tak mampu lagi memeluk asaku yang kini membumbung tinggi dan hilang.
Aku lepas kendali dalam memainkan pena merangkai kata pada syair-syair yang kubuat. Jangan salahkan bila kelak lagu-laguku berirama sendu.

Ma'afkan aku.

Selasa, 10 Mei 2011

Harapan Di Sela Kabut

Kutelusuri nafas-nafas masa lalu,kurebahkan sejenak jiwaku dalam pangkuan senja. Aku mulai redup di batas temaramnya masa. Wajahmu hingga detik ini belum juga layu. Tetap tersenyum membuka pelukan padaku. Walau sering ku coba hapus nama mu.

Dirimu tersimpan jauh di dasar hatiku. Menghuni bilik jantungku hingga waktu enggan lagi bernafas. Engkau kenanganku,engkau bagian dari masa laluku. Tak mungkin dapat kubuang lusinan senyum mu. Tak mungkin mampu jiwaku mengubur rangkaian waktu yang dahulu kita urai dalam canda tawa.. Tak mungkin pula waktu meremuk kan memori di benak ku.

Tentangmu dan tentangmu,selalu begitu setiap waktu. Temani irama degub jantungku. Hanya waktu yang mampu bicara. Hanya mimpi yang menyatukan jemariku dan jemarimu. Dan cita-cita yang dulu ingin di rengkuh kini kabur dari pandangan jiwaku.

Kini asa yang tersisa ku layangkan pada Yang Esa. Ku ingin di sisa-sisa hela nafasku mampu ku tatap jernihnya bola matamu,kunikmati parasmu. Walau hanya sekejap ingin ku dengar suaramu yg dulu dan hingga detik ini menggema di ruang jiwaku..

Semoga angin mencurahkan kesahku padamu.